Contoh Karya Tulis - Tugas Bahasa Indonesia


BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Seorang siswa dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah tidak akan lepas dari  berbagai peraturan dan tata tertib yang diberlakukan di sekolahnya, dan setiap siswa dituntut untuk dapat berperilaku sesuai dengan aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolahnya. Kepatuhan dan ketaatan siswa terhadap berbagai aturan dan tata tertib yang berlaku di sekolahnya itu biasa disebut disiplin siswa.Sedangkan peraturan, tata tertib, dan berbagai ketentuan lainnya yang berupaya mengatur perilaku siswa disebut disiplin sekolah.Tetapi masih banyak siswa yang melanggar peraturan di sekolah dan tidak berperilaku disiplin, tidak sedikit siswa yang menghiraukan peraturan dan menganggapnya hal sepele,bahkan ada yang sampai tidak mengetahui kalau sekolah ini punya peraturan.Sudah banyak cara yang dilakukan oleh sekolah tetapi belum ada hasilnya.

B. Identitas Masalah
1. Bagaimana cara meningkatkan kedisiplinan siswa?
2. Mengapa sekolah harus memiliki peraturan?

C. Rumusan Masalah
Adanya tindakan kurang disiplin yang di lakukan siswa di Sekolah menimbulkan berbagai pertanyaan, diantaranya:
1. Apa penyebab utama perilaku tidak disiplin siswa?
2. Perilaku siswa apa saja yang dinilai tidak atau kurang disiplin?
3. Apa saja faktor penyebab terhambatnya penerapan disiplin di sekolah?

D. Tujuan Penelitian
Tujuan penyusunan karya ilmiah ini adalah:
1.Memenuhi salah satu tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia
2.Mengetahui seberapa besar pengaruh disiplin siswa
3.perkembangan prestasi dan tingkah laku di sekolah.

4.Ikut serta dalam upaya mengembangkan penanaman disiplin pada diri siswa.

E. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penyusunan karya ilmiah ini adalah mengetahui seberapa besar penerapan disiplin yang dilaksanakan oleh siswa di Sekolah Dan seberapa besar upaya warga sekolah, khususnya Guru dalam usaha meningkatkannya.



BAB II
KAJIAN TEORI

A. Pengertian Disiplin
Disiplin berasal dari bahasa latin Discere yang berarti belajar. Dari kata initimbul kata Disciplina yang berarti pengajaran atau pelatihan.Dan sekarang kata disiplin mengalami  perkembangan makna dalam beberapa pengertian. Pertama,disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap peratuaran atau tunduk pada pengawasan, dan pengendalian. Kedua disiplin sebagai latihan yang bertujuan mengembangkan diri agar dapat berperilaku tertib. Dalam kehidupan sering kita dengar orang mengatakan bahwa pelajar adalah orang yang memiliki disiplin yang tinggi, sedangkan si Y orang yang kurang disiplin.Sebutan orang yang memiliki disiplin tinggi biasanya tertuju kepada orang yang selalu hadir tepat waktu, taat terhadap aturan, berperilaku sesuai dengan norma-norma yang berlaku, dan sejenisnya. Sebaliknya, sebutan orang yang kurang disiplin biasanya ditujukan kepada orang yang kurang atau tidak dapat mentaati peraturan dan ketentuan berlaku, baik yang bersumber dari masyarakat, pemerintah atau peraturan yang ditetapkan oleh suatu lembaga tertentu.

B. Disiplin Di Sekolah
Membicarakan tentang disiplin sekolah tidak bisa dilepaskan dengan persoalan perilaku negatif siswa. Perilaku negatif yang terjadi di kalangan siswa remaja  pada akhir-akhir ini tampaknya sudah sangat mengkhawatirkan, seperti: kehidupan sex bebas, keterlibatan dalam narkoba, gang motor dan berbagai tindakan yang menjurus ke arah kriminal lainnya, yang tidak hanya dapat merugikan diri sendiri, tetapi juga merugikan masyarakat umum. Di lingkungan internal sekolah pun pelanggaran terhadap berbagai aturan dan tata tertib sekolah masih sering ditemukan yang merentang dari pelanggaran tingkat ringan sampai dengan pelanggaran tingkat tinggi,seperti:  kasus bolos,perkelahian,menyontek,pemalakan, pencurian dan bentuk-bentuk penyimpangan perilaku lainnya.Tentu saja semua itu membutuhkan upaya pencegahan dan penanggulangganya, dan di sinilah arti penting disiplin sekolah.

            Perilaku siswa terbentuk dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain faktor lingkungan, keluarga dan sekolah.Tidak dapat dipungkiri bahwa sekolah merupakan salah satu faktor dominan dalam membentuk dan mempengaruhi perilaku siswa.Di sekolah seorang siswa berinteraksi dengan para guru yang mendidik dan mengajarnya.Sikap teladan,  perbuatan dan perkataan para guru yang dilihat dan di dengar serta dianggap baik oleh siswa dapat meresap masuk begitu dalam ke dalam hati sanubarinya dan dampaknya kadang-kadang melebihi pengaruh dari orang tuanya di rumah. Sikap dan perilaku yang ditampilkan guru tersebut pada dasarnya merupakan bagian dari upaya pendisiplinan siswa di sekolah. Beberapa penyebab perilaku siswa yang tidak disiplin, sebagai berikut :

1. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh guru
2. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh sekolah, kondisi sekolah yang kurang menyenangkan, kurang teratur, dan lain-lain dapat menyebabkan perilaku yang kurang atau tidak disiplin.
3. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh siswa, siswa yang berasal dari keluarga yang tidak baik. Perilaku tidak disiplin bisa disebabkan oleh kurikulum, kurikulum yang tidak terlalu kaku, tidak atau kurang fleksibel, terlalu dipaksakan dan lain-lain bisa menimbulkan perilaku yang tidak disiplin, dalam proses belajar mengajar pada khususnya dan dalam proses pendidikan pada umumnya.

Pendekatan peraturan demokratis dilakukan dengan memberi penjelasan,diskusi dan  penalaran untuk membantu siswa memahami mengapa diharapkan mematuhi dan menaati  peraturan yang ada. Teknik ini menekankan aspek edukatif bukan aspek hukuman. Sanksi atau hukuman dapat diberikan kepada yang menolak atau melanggar tata tertib.Akan tetapi, hukuman dimaksud sebagai upaya menyadarkan, mengoreksi dan mendidik. Dalam disiplin sekolah yang demokratis,kemandirian dan tanggung jawab dapat berkembang. Siswa patuh dan taat karena didasari kesadaran dirinya. Mengikuti peraturan yang ada bukan karena terpaksa,melainkan atas kesadaran bahwa hal itu baik dan ada manfaat.

            Sanksi adalah hukuman yang diberikan kepada siswa atau warga sekolah lainnya yang melanggar tata tertib atau kedisiplinan yang telah diatur oleh sekolah. Sanksi yang diterapkan agar bersifat mendidik, tidak bersifat hukuman fisik, dan tidak menimbulkan trauma  psikologis.Sanksi dapat diberikan secara bertahap dari yang paling ringan sampai yang seberat-beratnya. Sanksi tersebut dapat berupa:
1.
Teguran lisan atau tertulis bagi yang melakukan pelanggaran ringan terhadap ketentuan sekolah yang ringan.
2. Hukuman pemberian tugas yang sifatnya mendidik, misalnya membuat rangkuman  buku tertentu, menterjemahkan tulisan berbahasa Inggris dan lain-lain.
3. Melaporkan secara tertulis kepada orang tua siswa tentang pelanggaran yang dilakukan putera-puterinya.
4. Memanggil yang bersangkutan bersama orang tuanya agar yang bersangkutan tidak mengulangi lagi pelanggaran yang diperbuatnya.
5. Melakukan skorsing kepada siswa apabila yang bersangkutan melakukan pelanggaran  peraturan sekolah berkali-kali dan cukup berat.
6. Mengeluarkan yang bersangkutan dari sekolah , misalnya yang bersangkutan tersangkut perkara pidana yang dibuktikan oleh pengadilan.


C. Upaya Meningkatkan Kedisiplinan Siswa
Strategi umum merancang disiplin siswa, yaitu:
1. Konsep diri: Untuk menumbuhkan konsep diri siswa sehingga siswa dapat berperilaku disiplin, Guru disarankan untuk bersikap empatik, menerima,hangat dan terbuka.
2. Keterampilan berkomunikasi: Guru terampil berkomunikasi yang efektif sehingga mampu menerima perasaan dan mendorong kepatuhan siswa.
3. Konsekuensi-konsekuensi logis dan alami: Guru disarankan dapat menunjukkan secara tepat perilaku yang salah, sehingga membantu siswa dalam mengatasinya dan memanfaatkan akibat-akibat logis dan alami dari perilaku yang salah.
4. Klarifikasi nilai: Guru membantu siswa dalam menjawab pertanyaannya sendiri tentang nilai-nilai dan membentuk sistem nilainya sendiri.
5. Analisis transaksional: Guru disarankan belajar sebagai orang dewasa terutama ketika berhadapan dengan siswa yang menghadapi masalah.
6. Terapi realitas: Sekolah harus berupaya mengurangi kegagalan dan meningkatkan keterlibatan. Guru perlu bersikap positif dan bertanggung jawab.
7. Disiplin yang terintegrasi: Metode ini menekankan pengendalian penuh oleh guru untuk mengembangkan dan mempertahankan peraturan.
8. Modifikasi perilaku: Perilaku salah disebabkan oleh lingkungan. Oleh karena itu, dalam pembelajaran perlu diciptakan linn: Guru diharapkan cekatan, sangat terorganisasi, dan dalam  pengendalian yang tegas.gkungan yang kondusif.
9.Tantangan bagi disiplin: Guru diharapkan cekatan, sangat terorganisasi, dan dalam  pengendalian yang tegas.

Komentar

Postingan Populer